UNICEF Berikan Respon, Tolak Praktik Sunat Perempuan di Indonesia

UNICEF merupakan lembaga yang menentang praktik Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C) atau lebih dikenal dengan ‘sunat perempuan’. Menurutnya praktik seperti ini termasuk pelanggaran terhadap hak anak dan perempuan. Nah, karena hari ini pas banget bertepatan dengan Hari Internasional Nol Toleransi Bagi Praktik Sunat Perempuan, SUKITA ID akan berikam beberapa penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Di Indonesia praktik sunat perempuan sudah lama terjadi. Selain alasan keagamaan, sunat perempuan juga merupakan tradisi khas Indonesia. Dalam bentuk mengurangi praktik sunat perempuan di Indonesia, UNICEF telah menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia.

Keseriuaan UNICEF dalam mengkampanyekan penolakan terhadap praktik sunat perempuan dilakukan dengan mengundang Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise dalam acara diskusi panel tingkat tinggi PBB.

Lebih dari 140 juta perempuan di seluruh dunia harus menjalani sunat atau dikenal dengan istilah female genital multilation (FGM), dan 86 juta perempuan berisiko mengalami itu jika praktik ini dibiarkan sampai 2030.
(Foto: tribunnews.com)

Untuk menghapus praktik sunat itu, PBB menyatakan 6 Februari sebagai hari internasional anti FGM. Tema tahun ini adalah ‘mobilisasi dan keterlibatan personil kesehatan untuk mempercepat penghapusan sunat perempuan’.

Pada Desember tahun lalu, Majelis umum PBB mendesak semua anggotanya untuk memberikan pemahaman mengenai bahaya sunat pada perempuan. Petugas kesehatan, pekerja sosial serta pemimpin sipil dan agama harus ikut membantu upaya ini.

Sejak 2007, Badan PBB untuk Populasi (UNFPA) dan UNICEF memimpin program global untuk mempercepat penghapusan FGM. Hingga kini sudah 80 persen Negara di dunia terlibat dalam program ini. Sudah ada 12.700 komunitas dan 20 ribu pemimpin agama dan tradisional yang mendeklarasikan penghapusan FGM.

Saat ini, program tersebut difokuskan lebih dari 17 negara di Afrika dan Timur Tengah. Sasaran tahun ini adalah mengurangi hingga 40 persen praktik sunat terhadap anak perempuan berusia 14 tahun di sedikitnya lima Negara. Sunat perempuan dipraktikan di 29 negara kawasan Afrika dan Arab. Hal ini juga terjadi di sebagian wilayah Asia dan Amerika Latin.

Sejak Program Bersama UNICEF/UNFPA dimulai pada 2008, lima Negara telah meloloskan undang-undang nasional yang menjadikan FGM/C sebuah tindakan criminal, termasuk Kenya, Uganda, Guinea Bissau dan yang terakhir Nigeria serta Gambia pada 2015. Lebih dari 15.000 komunitas di 20 negara telah secara terbuka mendeklarasikan bahwa mereka telah meninggalkan FGM, termasuk 2.000 komunitas tahun lalu.

Sumber: Merdeka

#UNICEFTolakPraktikSunatPerempuandiIndonesia
#SUpayaKItaTAhu

Tags: Hari Internasional Nol Toleransi Bagi Praktik Sunat Perempuan, SUpayaKItaTAhu, UNICEF Tolak Praktik Sunat Perempuan di Indonesia

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 shares