Resa Boenard, Putri Sampah dari Bantar Gebang yang Jadi Guru Anak Pemulung

Pernahkah kamu membayangkan tinggal bersama tumpukan sampah dan mencium baunya setiap hari? Bagi kita yang beruntung, hal ini hanyalah sebuah pengandaian. Namun bagi Resa Boernad dan puluhan hingga ratusan orang lainnya di Bantar Gebang, ini adalah kenyataan hidup yang harus mereka lalui setiap hari.

Tentu saja kebanyakan orang yang tinggal disitu berprofesi sebagai pemulung. Berbekal besi pencolok dan karung, setiap hari mereka mencari barang-barang yang telah dibuang orang lain untuk jadi sumber penyambung hidup mereka. Di sana mereka berkeluarga dan melahirkan anak-anak kecil yang akan ribuan ton bukit sampah Bantar Gebang sebagai tempat bermain mereka.

(Foto: dailymail.co.uk)

Nasib anak-anak di Bantar Gebang biasanya tak jauh dari nasib orangtuanya. Karena keterbatasan biaya, banyak anak-anak Bantar Gebang yang terpaksa ikut orangtuanya untuk mengais rejeki. Resa yang juga tinggal di tempat itu hanya sedikit lebih beruntung, ia bisa sekolah sampai SMA. Namun kebanyakan anak seusianya saat masih sedang sekolah sudah menikah muda dan punya anak.

Saat masih di sekolah Resa sempat mengalami perundungan akibat bau sampah yang menempel di tubuhnya. Resa sampai dipanggil sebagai Putri Sampah dari Bantar Gebang. Meskipun begitu, Resa tetap pergi sekolah hingga akhirnya lulus. Awalnya ia sempat berhenti sampai SMA saja, namun kebaikan sepasang suami istri asal Inggris membantunya mencapai gelar S1 jurusan Teknik Informatika.

Resa yang sudah sejak muda tinggal di Bantar Gebang tak ingin jadi satu-satunya anak yang pintar. Ia ingin membagikan ilmunya untuk anak-anak pemulung yang tak sempat menikmati bangku sekolah. Halaman Facebook Al Jazeera English telah menceritakan kisah Resa Boenard, si putri sampah dari Bantar Gebang yang jadi guru anak pemulung.

Princess of the dump

Meet Indonesia's princess of the dump.

Dikirim oleh Al Jazeera English pada 31 Desember 2017

Di tahun 2014, bersama kawan sesama aktivis John Devlin, Resa mendirikan The Kingdom of BGBJ, sebuah komunitas aktivis dan relawan yang fokusnya membimbing dan membina anak-anak usia sekolah di Bantar Gebang.

BGBJ adalah kependekan dari “biji-biji Bantar Gebang”. Nama ini dipilih Resa karena mereka menganggap anak-anak Bantar Gebang sebagai biji, benih yang dapat tumbuh subur dengan cinta dan perawatan yang tepat hingga menjadi pohon yang kuat.

Di BGBJ, Resa dan relawan lainnya menfasilitasi anak-anak Bantar Gebang dengan kursus tambahan, berbagai workshop dan laboratorium sains, perpustakaan kecil, lab komputer, dan sanitasi yang baik. Mereka juga membuat produk balsem anti nyamuk untuk dijual dan menjadi dana operasional BGBJ. Selain itu, mereka juga mengandalkan donasi dari teman-teman relawan untuk membantu anak-anak Bantar Gebang untuk tumbuh dan berkembang jadi lebih baik.

John dan Resa, dua orang pendiri BGBJ (Foto: brilio.net)

Meskipun hingga saat ini masih banyak orang yang meremehkan bahkan menolak usaha Resa dan kawan-kawan untuk memajukan anak-anak Bantar Gebang, mereka tidak berhenti untuk berjuang.

Sumber: kampuskita.upnyk.ac.id\

#SUpayaKItaTAhu
#ResaBoenardPutriSampahdariBantarGebangyangJadiGuruAnakPemulung
#Motivasi

Tags: Indonesia, MOTIVASI, SUpayaKItaTAhu, Tokoh Inspirasi

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 shares