Profil dan Fakta Unik Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional

Profil dan Fakta Unik Tirto Adhi Soerjo

Apakah teman-teman SUKITA ID tahu siapakah bapak pers nasional? Nama Tirto Adhi Soerjo mungkin masih asing di telinga kita. Meskipun keturunan bangsawan asal Jawa ini merupakan pahlawan nasional, sepak terjangnya dalam membela Indonesia memang tak sesanter dengan pahlawan dari dunia militer. Tirto adalah seorang pahlawan nasional yang berjuang melawan penjajah melalui goresan pena. Bapak pers nasional ini merupakan orang pertamanya yang menuliskan kritiknya terhadap Belanda dalam bahasa Melayu, bahasa pribumi pada saat itu.

Untuk mengenang jasanya dalam membela rakyat Indonesia, kali ini SUKITA ID akan membagikan profil dan fakta unik Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Indonesia
  • Nama asli: Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo
  • Dikenal juga sebagai: Tirto Adhi Soerjo, T. A. S.
  • Tempat dan tanggal lahir: Blora, 1880
  • Wafat: Batavia, 1918
  • Kakek dan Nenek: Raden Mas Tumenggung Tirtonoto II dan Raden Ayu Tirtonoto
  • Orangtua: R. Ng. Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero (Ayah)
  • Istri: Prinses Fatimah dari Bacan
  • Anak: Raden Mas Priatman (yang diketahui)
Riwayat pendidikan Tirto Adhi Soerjo:
  • STOVIA (dikeluarkan tahun 1990)
Riwayat karir Tirto Adhi Soerjo:
  • Pendiri dan jurnalis di Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908)
Fakta unik Tirto Adhi Soerjo:
  1. Menurut putra sulung Tirto, RM Priatman dalam syari Di Indonesia 1875-1917, T. A. S. lahir tahun 1975 dan meninggal tahun 1917. Nisan Tirto di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Blender, Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat juga menuliskan tahun 1975 sebagai tahun kelahiran Tirto. Namun Pramoedya Ananta Toer mengatakan hal ini tidak tepat.
  2. Trito dikatakan kurang dekat dengan kedua orang tuanya karena tinggal berpindah-pindah ke sanak saudaranya yang lain. Ia lebih sering menyebut nama kakek dan neneknya dibandingkan nama orang tuanya. Bahkan nama Ibu Tirto tak diketahui publik hingga saat ini.
  3. Tirto dikeluarkan dari STOVIA setelah enam tahun belajar. Ada yang mengatakan bahwa ia dikeluarkan karena kedapatan mengeluarkan resep yang belum menjadi kewenangannya untuk sahabatnya seorang Tionghoa miskin, ada yang mengatakan bahwa ia dikeluarkan karena terlalu sibuk menulis.
  4. Setelah dikeluarkan dari STOVIA, Tirto bekerja sebagai seorang jurnalis. Tulisan-tulisannya yang menentang kebijakan Belanda yang merugikan pribumi membuatnya dibenci Belanda dan diasingkan ke pulau Bacan, Halmahera.
  5. Ia bertemu dengan Prinses Fatimah saat diasingkan ke Bacan, Hamahera. Keduanya menikah tahun 1905. Tirto mendapatkan kembali hak-haknya sebagai bangsawan dan diberikan gelan Prins van Batjan setelah pernikahnya.
  6. Tirto adalah salah satu pencetus dari berdirinya Sarekat Prijaji (1906) organisasi perjuangan pribumi yang lahir lebih dulu dibandikan Boedi Oetomo dan dan Sarekat Dagang Islamiah (5 April 1909). Nantinya Sarekat Dagang Islamiah Solo, pecahan SDI Tirto, akan berganti nama menjadi Sarekat Islam dan menjadi salah satu organisasi terbesar di masa perjuangan kemerdekaan.
  7. Tirto mendirikan Medan Prijaji tahun 1907 dengan moto “Orgaan Boeat bangsa jang terperentah di H.O. tempat akan memboeka swaranya anak-Hindia”. Medan Prijaji adalah surat kabar Indonesia pertama yang menggungakan bahasa Melayu.
  8. Dalam buku Sekilas Perjuangan Suratkabar (1958), Sudarjo Tjokrosisworo menggambarkan sosok Tirto sebagai wartawan pemberani “Dialah wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan suratkabar sebagai pembentuk pendapat umum, dengan berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pihak kekuasaan dan menentang paham-paham kolot. Kecaman hebat yang pernah ia lontarkan terhadap tindakan-tindakan seorang kontrolir, menyebabkan Tirtohadisoerjo disingkirkan dari Jawa, dibuang ke Pulau Bacan.”
  9. Tahun 1912 Tirto kembali diasingkan ke Maluku. Ia kembali ke Batavia beberapa tahun berikutnya namun selalu diawasi oleh sekutu. Ia menninggal tanggal 7 Desember 1918 karena sakit.
  10. Tirto dinobatkan sebagai Bapak Pers Nasional tahun 1973 berkat jasa-jasanya untuk mengangkat jurnalisme berbahasa Indonesia dan keberaniannya untuk menenantang Belanda di zaman Kolonial. Menurut Keppres RI no 85/TK/2006 ia dianugerahkan gelar pahlawan Nasional.
  11. Sosok Tirto diadaptasi Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Bumi Manusia menjadi Minke. Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan.
  12. Dewi Yull merupakan cicit dari Tirto.

Sumber: Cnnindonesia.com, Radarcirebon.com, Suara.com dan Tirto.id

#SUpayaKItaTAhu
#ProfilDanFaktaUnikTirtoAdhiSoerjoBapakPersNasional

Tags: Pahlawan Nasional, SUpayaKItaTAhu, Tirto Adhi Soerjo

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 shares