Profil dan Fakta Unik Hajjah Andi Depu, Pahlawan Pertama dari Sulawesi Barat

Profil dan Fakta Unik Hajjah Andi Depu

Hajjah Andi Depu atau Ibu Agung seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang baru saja dinanugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Wanita asal Sulawesi Barat merupakan seorang anggota kerajaan yang mendukung penyatuan NKRI. Meskipun ia seorang perempuan dan tak diizinkan suaminya untuk berperang, dengan gagah berani ia memimpin penduduk Madar untuk mengusir penjajah dari tanah air.

Supaya teman-teman SUKITA ID mengenal Pahlawan Nasional yang baru ini, bacalah profil dan fakta unik Hajjah Andi Depu berikut ini!
  • Nama lahir: Sugiranna Andi Sura
  • Dikenal juga sebagai: Ibu Agung, Hajjah Andi Depu, Andi Depu Maraddia Balanipa
  • Tempat dan tanggal lahir: Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Agustus 1907
  • Wafat: Ujungpandang, Sulawesi Selatan, 18 Juni 1985
  • Orangtua: La’ju Kanna Idoro (ayah)
  • Suami: Andi Baso Pabiseang
Fakta unik Hajjah Andi Depu:
  1. Hajjah Andi Depu adalah putri Raja Balanipa ke-50. Meskipun seorang putri, ia gemar Hajjah Andi Depu yang biasa dilakukan anak-anak lelaki. Ia suka memanjat pohon, menunggang kuda, bahkan main perang-perangan.
  2. Pada 1943, Hajjah Andi Depu memelopori berdirinya Fujinkai di Mandar sebagai wadah pergerakan kaum perempuan di daerahnya.
  3. Hajjah Andi Depu turut menggagas dibentuknya organisasi bernama Islam Muda pada April 1945 setelah mendengar kabar Jepang mulai terdesak oleh Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.
  4. Setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Hajjah Andi Depu menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia di Madar. Ia langsung mengibarkan bendera merah putih di halaman depan Istana Balanipa.
  5. Saat Sekutu datang diboncengi Belanda (NICA), Hajjah Andi Depu menghimpun rakyat untuk melawan penjajah dan menjadikan istana Balanipa sebagai markas para pejuang Republik di Madar.
  6. Tahun 1946, Hajjah Andi Depu dinobatkan sebagai Arayang atau Maraqdia Balanipa di Madar atas permintaan para tokoh adat dan masyarakat. Ia menjadi pemimpin wanita pertama dalam sejarah Kerajaan Balanipa. Saat itulah ia dipanggil sebagai Ibu Agung.
  7. Organiasai Islam Muda bentukannya dulu berubah menjadi Kelaskaran Rahasia Islam Muda (KRIS MUDA) dengan Hajjah Andi Depu sebagai panglimanya.
  8. Pada 15 Januari 1946 Belanda ingin menurunkan bendera merah putih di Istana Balanipa. Kejadian ini membuat Hajjah Andi Depu marah dan peristira Merah Putih terjadi.
  9. Perjuangannya melawan Belanda tidak didukung oleh suaminya karena Andi Baso Pabiseng tidak ingin mencari gara-gara dengan Belanda. Meskipun begitu, Ibu Agung tetap berjuang. Dikutip dari Biografi Pahlawan Hajjah Andi Depu Mara’dia Balanipa (1991) karya Aminah Hamzah dan kawan-kawan, ia selalu berkata: “Sekali berjuang tetap berjuang, merdeka atau mati demi bangsaku!” (hlm. 37).
  10. Hajjah Andi Depu ditangkap Belanda saat dalam perjalanan pulang dari Makassar setelah melakukan koordinasi dengan pejuan Indonesia di sana. Ia ditahan dan dipindahkan selama 28 kali selama ditahan kurang lebih 3 tahun.
  11. Hajjah Andi Depu meninggal di usia 78 tahun. Ia dimakamkan di Jenazah sang ratu-pejuang dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar, Sulawesi Selatan.
  12. Hajjah Andi Depu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia tanggal 8 November 2018. Hingga saat Andi Depu adalah satu-satunya Pahlawan Nasional dari Sulawesi Barat.

Sumber: Tirto.id

#SUpayaKItaTAhu
#ProfilDanFaktaUnikHajjahAndiDepu
#Tokoh

Tags: Hajjah Andi Depu, Profil, SUpayaKItaTAhu

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 shares