Motivasi dari Lalu Muhammad Zohri, Pelari Tercepat yang Dulu Tak Bisa Beli Sepatu

Motivasi dari Lalu Muhammad Zohri

Tak semua orang bisa beruntung lahir di keluarga berkecukupan dan bisa tumbuh dewasa dalam pelukan kasih sayang orang tuanya. Tak semua orang berbakat juga yang bisa memaksimalkan kemampuannya dan menembus batas dirinya sendiri. Meskipun begitu Lalu Muhammad Zohri berhasil mengalahkan semua keterbatasannya dan mampu mengharumkan nama Indonesia dari di ajang lomba atletik terbesar di dunia.

Lalu Muhammad Zohri lahir tanggal 1 Juli 2000. Zohri yang sehari-hari dipanggil Badok oleh keluarganya kini baru berusia 18 tahun. Dalam usianya yang masih muda ini Badok telah kehilangan ayah dan ibunya. Ibunya, Saeriah, meninggal tahun 2015 saat usianya ia masih duduk di bangku SMP. Bulan Agustus tahun lalu ayahnya, Lalu Ahmad, ikut menyusul ibunya. Anak bungsu dari 4 bersaudara ini juga telah kehilangan kakaknya Baiq Fuzianti. Sekarang ia hanya tinggal bersama kakak tertuanya Baiq Fazilla (29) dan kakak keduanya Lalu Makrib (28).

Keluarga Zohri adalah keluarga yang sangat sederhana. Fazilla bekerja sebagai tukang masak sementara Makrib bekerja serabutan. Mereka tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka yang sudah lama tak direnovasi. Lantainya berupa semen sementara dindingnya terdiri dari kayu dan anyaman bambu. Beberapa bagian rumahnya berlubang dan keropos. Rumah itu tidak memiliki cat dan tampak mulai lapuk.

(Foto: tribunnews.com)

Melihat rumahnya yang seperti itu Zohri pernah berjanji pada kakaknya bahwa ia akan merenovasi rumah mereka seandainya sudah sukses. Sebagai anak terakhir, Fadilla melihat Zohri sebagai sosok adik baik yang tak mau menyusahkan kakaknya dan berjuang sendiri mencari cara untuk bisa cepat hidup mandiri. Siapa yang menyangka jalan menuju kesuksesan bagi pemuda NTB ini dia dapatkan dengan berlari.

Atlet muda ini baru menyadari ada kesempatan untuk berprestasi di bidang atletik saat Rosida, gurunya di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pemenang, mengajaknya untuk mendalami olahraga lari. Awalnya Zohri tak begitu tertarik mengikuti saran Rosida untuk mendalami dunia atletik dan memilih untuk bermain bola bersama teman-temannya.

Namun saat kelas 3 SMP akhirnya Zohri mau mencoba saran Rosida. Rosida langsung mendaftarkan Zohri ke kejuaraan daerah atletik. Disana bakatnya untuk berlari dilihat oleh Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) Nusa Tenggara Barat. Ia ditawari masuk ke sekolah khusus atlet tersebut. Sekarang ia sedang menduduki bangku kelas 2 di SMA.

Perjalanannya untuk meraih mimpi tentu tidak mudah. Lahir dari keluarga sederhana dan berpenghasilan kecil, Zohri terbiasa untuk berlatih lari tanpa sepatu. Tahun 2017 kemarin ia sempat meminta uang 400 ribu kepada kakaknya untuk membeli sepatu. Sayangnya Fazilla hanya bisa memberikan uang seadanya untuk membantu adiknya karena kondisi ekonomi mereka yang tak mendukung. Tahun itu juga ayahnya yang biasa menemani Zohri untuk latihan lari di pantai meninggal dunia.

Meskipun harus mengalami banyak cobaan, Zohri terus berjuang membuktikan kemampuannya. Pada kejuaraan nasional antar PPLP akhir 2017, Zohri meraih juara pertama dengan catatan waktu 100 meter dengan catatan waktu 10,25. Tak hanya itu, dia juga berhasil memecahkan rekor nasional junior yang dipegang Sudirman Hadi yang memiliki catatan waktu 10,45 detik. Sepanjang tahun 2017, pemuda berkulit sawo matang ini berhasil memenangkan 7 medali dalam dan luar negeri.

Prestasinya pada tahun 2017 membuatnya terpilih masuk ke dalam pelatnas atletik cabang estafet untuk Asean Games sejak Januari 2018. Atlet berusia 18 tahun ini tetap mengasah bakatnya dan mengikuti kejuaraan Atletik Junior tingkat Asia. Ia berhasil memenangkan medali lari cepat 100 meter dengan waktu 10,27 detik dalam final di Stadion Gifu Nagarawa, Jepang pada 8 Juni 2018.

Lalu Muhammad Zohri berhasil menjadi pelari U-20 tercepat di dunia

Kemudian ia berangkat ke Amerika untuk menjalani pelatihan tambahan sebelum berlari pada kejuaraan atletik sedunia, IAAF, di Finlandia. Ia berhasil mematahkan rekor pribadinya dengan catatan waktu baru 10,18 detik dan mengalahkan dua pelari unggulan dari Amerika, Anthony Schwartz dan Eric Harrison. Rekor waktu 10,18 detik itu juga mendekati rekor nasional senior atas nama Suryo Agung Wibowo, yaitu 10,17 detik. Tanggal 12 Juli 2018, Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih medali emas dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya sepanjangsejarah IAAF.

Motivasi dari Lalu Muhammad Zohri
(Foto: twitter.com)

Keberhasilan Zohri untuk menjadi perlari U-20 tercepat dunia ini membuat orang terkejut. Ia bahkan harus menunggu lama untuk mendapatkan bendera merah putih yang sering digunakan pemenang lomba olahraga saat merayakan kemenangannya.Pasalnya Zohri bukanlah perlari andalan dari negara yang pernah menang. Terakhir kali Indonesia berhasil membuktikan dirinya di kejuaraan dunia IAAF U-20 adalah tahun 1986 saat pelari tercepat Indonesia berhasil memasuki 8 besar.  Itu sebabnya prestasinya jadi kejutan manis untuk Indonesia.

Tanpa ada yang menduganya akan berhasil, Zohri menunjukkan kemampuannya pada dunia. Cita-citanya untuk merenovasi rumah pun langsung setelah menjadi juara dunia. Presiden Jokowi menghadiahi renovasi rumah untuk merayakan kemenangan pelari U-20 tercepat di dunia. Atlet muda ini juga mendapatkan berbagai hadiah dari pemerintahan dan warga Indonesia lainnya atas prestasi yang ia berikan.

Perjuangan Lalu Muhammad Zohri kini memberikan dampak yang besar dalam kehidupannya. Semoga atlet muda ini bisa terus berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia!

Sumber: Kompas.com, Tribunnews.comTempo.co, dan Pikiran-rakyat.com

#SUpayaKIta Tahu
#MotivasiLaluMuhammadZohriPelariTercepatYangDuluTakBisaBeliSepatu
#Motivasi

Tags: Atlet Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, SUpayaKItaTAhu, Tokoh Inspirasi

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 shares