Good Night Story for Rebel Girl, Cerita di mana Perempuan yang Jadi Pahlawannya

Good Night Story for Rebel Girl, Cerita Perempuan yang Jadi Pahlawannya

Coba ambil buku dongeng yang kamu punya atau ingat-ingat lagi dongeng yang pernah kalian baca. Apakah kamu pernah mendengar dongeng tentang si kancil yang berusaha menyeberang dengan bantuan buaya? Atau kisah si ular licik yang memanfaatkan keluguan kerbau untuk mengangkat pohon yang menimpanya? Atau kamu ingat ikan mas miliki bawang putih? Sekarang, SUKITA ID punya pertanyaan nih, kamu ingat gak apa si kancil, buaya, ular, kerbau atau ikan mas itu jantan atau betina?

Sebenarnya, tidak ada satupun cerita diatas yang secara spesifik mengatakan bahwa hewan itu adalah jantan ataupun betina. Si pembaca bebas mengatakan si kancil itu betina atapun si ular itu jantan. Hanya saja kebanyakan orang akan menjawab si kancil, buaya, ular, kerbau atau ikan mas itu sebagai jantan. Mengapa bisa begitu?

Dilansir dari washingtonpost.com, berdasarkan penelitian dari Florida State University tahun 2011 hanya ada 7.5% dari sekitar 6.000 buku yang diterbitkan tahun 1990 hingga 2000 yang menggunakan tokoh binatang yang betina sementara ada 35% buku yang menggabarkan tokoh utama binatang jantan. Kurang dari 33% buku dongeng yang memiliki tokoh wanita ataupun binatang betina sementara tokoh laki-laki ataupun binatang jantan ada di 100% buku dongeng.

Peneliti juga menunjukan bahwa jika di dalam dongeng binatang yang tidak secara spesifik mengenai jenis kelamin tokoh utamanya, orangtua cenderung mengatakan bahwa binatang tersebut adalah jantan. Itu juga sama dengan teman-teman SUKITA ID yang tadi menjawab kancil itu jantan. Padahal, kalau ada orang yang menyebut si kancil itu betina juga tidak salah kan?

Menyadari kekurangan tokoh wanita dalam cerita anak-anak membuat Elena Favilli dan Francesca Cavallo khawatir. Dongeng tak hanya berfungsi sebagai pengantar tidur saja, tapi juga menjadi pelajaran moral untuk anak-anak. Tokoh-tokoh di dalam dongeng menjadi sesuatu yang anak ingin jadikan panutan. Tapi bagaimana jika anak-anak perempuan itu tidak menemukan satu tokoh wanita yang mereka bisa jadikan contoh di dalam cerita?

Memang, tak perduli tokoh utama di cerita laki-laki ataupun perempuan, pasti ada pesan moral yang terkandung dalam dongeng tersebut. Tapi tokoh cindelaras yang pergi berjuang mengambil kembali kekuasannya yang hilang saat dia dibuang bukanlah sesuatu dibayangkan anak-anak perempuan untuk ditiru, sama seperti anak lelaki yang tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Bawang Putih yang disiksa ibunya.

Good Night Story for Rebel Girl, Cerita Perempuan yang Jadi Pahlawannya
(Foto: rebelgirls.co)

Elene dan Francesca juga menyayangkan bahwa meskipun memang ada perempuan dalam dongeng, biasanya perempuan itu tak berdaya tanpa bantuan orang lain. Contohnya Bawang Putih yang dibantu ikan mas supaya bisa hidup bahagia, Upik Abu yang dibantu ibu peri supaya bisa pergi ke pesta dan Putri Salju yang dibantu oleh 7 kurcaci (yang semuanya juga laki-laki) untuk lari dari kejaran ibu tirinya. Membacakan dongeng-dongeng seperti ini tentunya menghibur bagi anak, namun seperti ada stereotipe yang mengatakan bahwa perempuan itu lemah dan tidak bisa maju dengan jerih payahnya sendiri.

Merasa prihatin dengan keadaan ini, Elena dan Francesa memutuskan anak perempuan harus membaca cerita dimana perempuan yang jadi pahlawannya. Mereka ingin anak-anak perempuan tumbuh dewasa sambil mengingat tokoh-tokoh wanita hebat yang bisa menginspirasi mereka untuk tetap maju. Itu sebabnya mereka membuat buku dongeng Good Night Story for A Rebel Girl dimana semua tokoh utamanya adalah perempuan.

Good Night Story for Rebel Girl, Cerita Perempuan yang Jadi Pahlawannya
(Foto: rebelgirls.co)

Good Night Story for A Rebel Girl adalah sebuah buku dongeng tentang 100 wanita-wanita hebat dari masa lalu hingga masa kini. Buku itu berisi tentang kisah Ratu Elizabeth I, sang ratu Inggris, hingga Serena Williams, petenis kelas dunia. Buku ini juga diilustasikan oleh 60 artis wanita dari seluruh dunia. Hingga tahun 2016 mereka melalui Timbuktu Magazine yang mereka bangun telah membuat 12 aplikasi dongeng di apps stor, 6 buku dalam di Inggris, Perancis dan Italia.

Sayangnya buku-buku hebat ini baru hanya ada di eropa saja. Di Indonesia kesadaran untuk menceritakan anak perempuan kita tentang kisah hebat kaumnya sendiri masih sangat tipis. Semoga saja tak lama lagi kita akan mendengar ada buku dongeng yang baru terbit dimana tokoh utamanya adalah wanita-wanita yang menginspirasi.

#SUpayaKItaTAhu

Tags: Dongeng, SUpayaKItaTAhu, Wanita

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 share