Ditolak di Berbagai Daerah, Pemprov Aceh Sudah Izinkan Vaksinasi MR

Izinkan Vaksinasi MR

Pemerintah Provinsi Aceh akhirnya mengambil sikap mengenai polemik vaksin Maesles Rubella (MR). Vaksin MR dibuat dengan menggunakan unsur babi yang membuat vaksin tersebut haram bagi umat muslim. Meskipun mendapat gelombang penolakan di berbagai daerah, Pemprov Aceh sudah izinkan vaksinasi MR bagi penduduknya.

Keputusan yang diambil oleh Pemprov Aceh ini mengikuti Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 tahun 2018 yang membolehkan (mubah) penggunaan vaksin MR. Ada tiga pertimbangan penting mengapa MUI membolehkan penggunaan vaksin MR. Pertama, adanya kondisi keterpaksaan (darurat). Kedua, belum ditemukannya vaksin pengganti yang halal dan sudi. Ketiga, adanya keterangan dari ahli yang terpercaya dan kompeten terkait bahaya akibat tidak diimunisasi vaksin MR.

Sebelum memberikan izin untuk diedarkan di masyarakat, Pemprov Aceh juga sudah melakukan diskusi dengan Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPU). Pemprov Aceh dan MPU Aceh sepakat bahwa vaksin MR sah diberikan kepada anak-anak sebab Aceh merupakan salah satu provinsi yang mendapatkan “ancaman kematian” dari campak dan rubella. Jika dibiarkan, penyakit campak dan rubella bisa berefek panjang terhadap tumbuh kembang anak hingga mengakibatkan kecacatan.

“Ibarat sedang berada dalam kondisi darurat karena kelaparan dan nyawa sudah berada di kerongkongan, bangkai babi sekalipun boleh kita makan sekali agar keadaan darurat itu hilang,” kata Ketua MPU Aceh, Muslim Ibrahim, dalam jumpa pers di rumah dinas Plt. Gubernur Aceh, Rabu (19/09) yang dikutip bbc.com.

Meskipun demikian, Muslim Ibrahim berharap pemerintah dapat segera mencari alternatif lain untuk mengatas masalah campak dan rubella di Indonesia. Saat ini masih belum ada alternatif lain dari unsur babi yang digunakan dalam pembuatan vaksin MR dari Serum Institute of India (SII).

Sejak hari ini (20/9) puluhan anak Aceh dari usia sembilan bulan hingga 15 tahun telah mendapatkan vaksin MR. Meskipun Pemprov Aceh sudah izinkan vaksinasi MR, orang tua masih bisa menolak imuniasi tersebut.

Kementerian Kesehatan Indonesia mengatakan imunisasi penting untuk dilakukan setidaknya 80% dari penduduk agar wilayah tersebut mendapatkan kekebalan kelompok. Seandainya kekebalan kelompok tercapai, orang-orang yang tidak melakukan imunisasipun dapat terhindar dari penyakit-penyakit Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) seperti campak dan rubella.

Jika hanya imunisasi hanya dilakukan kepada 60% atau kurang dari jumlah penduduk, maka kemungkinan akan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) mewabahnya PD3I terjadi menjadi besar. Semoga saja kedepannya penduduk Aceh mendapatkan kekebalan kelompok hingga akhirnya tak ada lagi kasus campak dan rubella yang bisa mengancam nyawa.

Bagaimana tanggapan teman-teman SUKITA ID mengenai hal ini?

Sumber: Depkes.go.id, BBC.com,  Liputan6.com 1 dan 2

#SUpayaKItaTAhu
#IzinkanVaksinasiMR
#Terkini

Tags: Aceh, SUpayaKItaTAhu, Vaksin MR

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 shares