Terkait Kasus Prostitusi Online Vanessa Angel, Begini Sejarah Prostitusi di Indonesia

vanessa angel terciduk, begini perkembangan prostitusi di Indonesia

Beberapa hari lalu dunia selebriti dihebohkan dengan berita artis yang tertangkap akibat prostitusi online di Surabaya. Terciduknya dua artis Ibu Kota tersebut dalam kasus dugaan prostitusi online di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (5/1/2019) sontak menggemparkan pada awal tahun 2019 ini. 

Kasus Prostitusi Online Artis

Selain dua artis tersebut yang membuat heboh adalah tarif yang dipatok pun cukup besar, dilansir dari Suara.com, dari hasil pemeriksaan, ternyata kedua artis yang bernama Vanessa Angel (VA) dan Avriellya Shaqila (AS) memiliki tarif yang berbeda, AS memasang tarif sebesar Rp25 juta, sedangkan VA memasang tarif lebih tinggi dengan sebesar Rp 80 juta.

Kalo kita tarik kebelakang, banyak kasus prostitusi yang melibatkan artis, nah sebenarnya bagaimana sih sejarah prostitusi di Indonesia dan perkembangannya, sehingga artis pun bisa terjerumus kasus prostitusi tersebut. Yuk simak selengkapnya!

Praktik prostitusi atau praktik pekerja seks komersil memang sulit dihapuskan begitu saja, karena punya akar sejarah yang lumayan panjang pada masyarakat Indonesia sejak zaman kerajaan.

Sejarah Prostitusi di Indonesia

Dilansir dari Viva.com, Dalam penelitiannya yang berjudul Form Concubines to Prostitutes, A Partial History of Trade in Sexual Services in Indonesia, Terrence Hull seorang profesor Demografi dari Australian National University mengungkapkan, bahwa asal-usul prostitusi modern di Indonesia dapat ditelusuri dari zaman kerajaan Jawa.

Hull menjelaskan tingkat kekuatan dan kekuasaan raja diwakili oleh seberapa banyak selir yang dimilikinya, mulai dari selir  dari putri bangsawan, dan juga selir yang dimiliki dari upeti yang diberikan dari kerajaan lain. Perlakuan terhadap seorang wanita sebagai komoditas tidak hanya terbatas di Jawa tapi juga di seluruh Asia, dimana perbudakan, sistem indenture dan perbudakan seumur hidup adalah bentuk feodal yang umum.

Bentuk industri seks yang lebih terorganisir juga makin berkembang pesat selama masa penjajahan Belanda. Sistem perbudakan dan pergundikan tradisional disesuaikan dengan kebutuhan dan adat istiadat masyarakat Eropa yang didirikan diwilayah pelabuhan nusantara, dengan kepuasan seksual tentara, pedagang dan utusan menjadi salah satu isu prioritas dalam benturan budaya asing.

Pada tahun 1884, pelacuran tidak hanya berkembang untuk melayani pekerja bangunan tapi juga di setiap kota besar yang memiliki stasiun kereta api, kedatangan penumpang kereta api meningkatkan permintaan akan papan dan penginapan dan juga untuk layanan seksual.

Sebagai contoh, di Bandung kompleks pelacuran dikembangkan di beberapa lokasi yang dekat dengan stasiun kereta api, termasuk Kebon Jeruk, Kebon Tangkil, Sukamanah dan Saritem. Di Yogyakarta juga didirikan kompleks lokalisasi seperti di Pasar Kembang, Mbalokan dan Sosrowijayan. 

Selama kependudukan Jepang antara tahun 1941 dan 1945, komersialisasi seks di Indonesia semakin berkembang, wanita yang sudah bekerja sebagai PSK dikelompokkan dan setelah pemeriksaan kesehatan, beberapa wanita dialokasikan ke rumah pelacuran untuk melayani tentara Jepang.

Dan hingga saat ini, dunia komersialisasi seks tidak mudah untuk dihapuskan bahkan ada dari beberapa negara melegalkan praktik prostitusi tersebut.

sumber: VIVA dan Suara.com

Tags: Kasus Prostitusi, Sejarah, Terkini

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 share